Kenapa album Anggun ngga di rilis lagi di US?
Gw ngga ngerti kenapa album Anggun ngga di rilis lagi di US. Seinget gw, satu-satunya album yang di rilis di US tuh album pertamanya doang. Padahal Anggun udah pernah konser di sana (walau konser kecil) dan dapet tanggapan bagus. Kalo ngga bagus, gak mungkin nongol di chart Billboard urutan 23 di Top Heatseekers, Billboard's album chart for new artists. Grrr......
Gw juga ngga ngerti kenapa labelnya masiiihhh aja ngga ngasi kesempatan Anggun buat rilis albumnya setelah banyak orang amerika yang ngomel2 di Amazon.com lantaran cuma bisa dapet album Anggun versi import - padahal fans-nya udah bejibun (ngga bejibun2 amat, sih. Tapi cukup banyak loh...)
Ini salah satu komentar fans anggun asal Portland, US yang kesel album Anggun ngga rilis di Amrik:
By: L. Ferrel (Portland, OR)
"This woman is just awesome. Everyone I've played her CD "Snow on the Sahara" for falls in love with her. I saw her on PBS and she blew me away; even better live. I thought maybe this is a fluke, that "Chysalis" would show me we were all wrong. But no, she is as wonderful as ever. She has such a smokey, sensual voice and her material and music matches it perfectly. I could listen to her forever. The world should know about her, don't know why they don't play her on the radio or VH1 either. WAKE UP AMERICA - DISCOVER ANGGUN!!"
See?
Padahal udah banyak yang pengen Anggun konser di Amrik.
Hey label, kasih dong kesempatan buat Anggun invasi ke Amrik. Reseh deh Sony (atau sekarang Warner?)
Hai, erlando!
Aku rasa sih ini juga yang jadi pertanyaan besar bagi fans-fans Anggun dimanapun mereka berada (ceilaa...), bukan di Indonesia aja (walau mungkin terutama di Indonesia) tapi juga di AS.
Ya, memang dari zaman Snow on the Sahara pujian demi pujian sudah dialamatkan pada Anggun, khususnya dari publik AS. Dan sebagai pengingat, Anggun sempat masuk line-up di festival musik Lilith Fair, yang diadakan oleh musisi wanita Kanada, Sarah McLachlan, di tahun 1998. Festival ini bisa dibilang salah satu festival paling penting (dan jelas besar) dalam sejarah musik dunia, secara festival ini hanya menampilkan penyanyi/grup musik wanita. Dan kehadiran Anggun di festival ini (yang memang dalam salah satu rangkaian penampilannya, ikut nyanyi satu panggung bareng Sarah McLachlan dan penyanyi soul/R&B Erykah Badu) bisa dibilang spesial.
Asumsi aku selama ini, mungkin karena pihak label Anggun waktu (Sony Music) merasa bahwa penjualan album (hebat) ini tidak memenuhi harapan. Berdasarkan info yang aku baca di Billboard.com sih, album ini 'hanya' mampu terjual sekitar 90.000-100.000 keping di AS. Angka ini memang cukup besar, apalagi untuk ukuran artis baru--dari Asia pula. Namun, (mungkin) bagi pihak Sony (yang kala itu bisa dibilang label musik terbesar di dunia), angka ini tidak memuaskan. Apalagi untuk ukuran tahun 90an, dimana saat itu belum ada yang namanya tren digital music, semua orang masih beli suatu album atau singgel dalam bentuk fisik (CD). Jadi, figur penjualan yang cuma 'segitu' dianggap sebagai suatu kegagalan...
Kalau kita lihat ke belakang, memang pihak Sony terlihat begitu 'berinvestasi' atas Anggun. Fakta membuktikan bahwa album ini rilis di sekitar 30 negara. Dengan itu saja kita bisa berasumsi kalau Sony memang serius ingin menjadikan Anggun sebagai the next superstar, the next diva atau yang semacam itu. Bahkan untuk mempromosikan musik Anggun di AS aja, waktu itu Anggun sampai hampir setahun (tepatnya 9 bulan) hijrah ke AS (di kota apa tepatnya nggak tahu, mungkin di New York ya?). Mengingatkan lagi, Anggun pun sempat tampil di Rosie O'Donnell Show, yang kala itu bisa dibilang sebagai salah satu acara daytime talkshow (temu wicara siang hari) yang paling 'ciamik' di AS. Aku pernah nonton E! Channel, dan dapat info kalau acara ini ternyata selama masa tayangnya menjadi saingan terberat Oprah Winfrey Show loh (dalam soal rating). Dari sini kita bisa lihat sebesar apa potensi karir Anggun pada awalnya.
Cuma... memang entah kenapa pada akhirnya musik Anggun nggak 'klik' dengan publik AS. Lagi-lagi menurut aku, mungkin ini cuma masalah kurang tepat dalam soal promosi...
Aku rasa pasar yang dibidik Sony untuk Anggun itu ya di pasar pop kontemporer alias adult contemporary... tapi memang terlihat agak kurang intens gitu. Mungkin ini masalah berani-nggak berani gambling, karena kalau betul-betul mau diseriuskan, pasar ini sebetulnya besar loh di AS. Dan dengan berbagai penampilan di acara-acara yang tepat (mungkin harusnya Anggun juga tampil di Oprah Winfrey Show ya?
), dari dulu Anggun udah bisa punya sukses lah di pasar AS. Jelas ada faktor-faktor yang menyebabkan ini terjadi, baik dari pihak Anggun sendiri dan atau pihak Sony.
Karena pada saat kemunculannya dengan Snow on the Sahara itu, Anggun betul-betul artis yang unik loh. Secara vokal, mungkin dia satu kelas dengan penyanyi-penyanyi macam Celine Dion, Mariah Carey, dsb. Dari dulu gaya Anggun ya selalu anggun, berkelas, terpoles rapih... ya seperti para diva itu juga kan? Tapi di lain sisi, vokalnya juga khas, jelas dia orang Asia, musik yang dia usung waktu itu kan sangat bernuansa etnik, dia berbasis di Perancis dan dia juga punya musician image, bukan cuma diva image (yang kalau lagi nyanyi di oktaf tingkat tinggi tangannya melambai-lambai keatas...
) dengan main piano-nya itu (coba, pernah lihat Celine apa Mariah main piano nggak...). Semua itu jadi nilai plus yang buat Anggun terlihat begitu berbeda, jelas unik dan lebih spesial ketimbang nama-nama lain yang aku sebut itu. Tapi mungkin bagi sebagian orang, ini jadi "terlalu unik"... (know what I mean ya?)
Yang pasti, dari berbagai tulisan yang aku baca di internet (khususnya yang dari AS), mereka semua begitu menyanjung dan memuji Anggun dan menyayangkan kenapa setelah Snow on the Sahara Anggun nggak pernah rilis apa-apa lagi di AS (Open Hearts dirilis tapi nggak ada promosi... yah, siapa juga yang 'ngeh'?! hehe...).
Karena kalau diingat juga, 'tugas' Anggun waktu itu lumayan banyak loh. Nggak heran kalau promosi Snow on the Sahara itu berjalan sampai 2 tahun (1997-1999), karena memang bagi seorang artis baru, dari Asia pula dan karirnya berbasis di Eropa, harus intens berpromosi kalau mau meraih yang namanya worldwide recognition (atau dalam hal ini U.S. recognition). Belum lagi waktu itu kan Anggun promosi 2 album sekaligus: Au nom de la Lune dan Snow on the Sahara. Bayangin aja gimana repotnya Anggun, pihak label dan manajemen kala itu, harus menyeimbangkan promosi semuanya biar pas, biar sukses. Pernah baca, dulu waktu Anggun lagi sibuk promo di AS, dia harus bolak-balik AS-Perancis untuk promo singgel Au nom de la Lune dan berbagai penampilan lainnya. Tapi mungkin karena ribet ini, sukses kedua album ini pada akhirnya jadi nggak sebesar yang awalnya diharapkan, walau jelas tidak buruk...
Lanjut ke album Chrysalis, album ini sebetulnya dijadwalkan untuk dirilis di AS loh, di tahun 2001. Namun entah kenapa, nggak jadi. Disini yang bikin agak bingung, secara rasanya album ini punya nilai jual yang lebih tinggi ketimbang Snow on the Sahara... kok malah gagal rilis? "Still Reminds Me" sebetulnya bisa sukses besar loh, kalau misalnya dirilis di AS, secara lagunya bernuansa R&B pula, yang jelas lebih 'klik' sama pasar AS ketimbang "Snow on the Sahara" apa "A Rose in the Wind". Tapi kan kita tahu kalau habis album ini (dan juga Open Hearts), Anggun putus kontrak sama Sony dan pindah label.
Dan tibalah album Luminescence, yang sebetulnya punya potensi lebih dari cukup untuk betul-betul melambungkan nama Anggun secara global. Kalau dilihat, banyak loh lagu di album ini yang bisa jadi hits besar ("In Your Mind", "Saviour", "Devil in My Mind", "Undress Me", "Evil & Angel", "I'll Be Alright" ...). Namun, mungkin lagi-lagi terhambat masalah dana promosi atau yang seperti itu. Dan kita kan bisa lihat kalau di album itu Anggun betul-betul konsen di pasar Perancis/Frankofon (di YouTube video penampilan Anggun paling banyak di zaman Luminescence), karena album sebelumnya, Desirs contraires, kan bisa dibilang gagal secara komersial. Walau kita kan juga tahu kalau "Undress Me" jadi hit di Italia, Lebanon dan Turki, "Saviour" pun bisa dibilang jadi singgel paling sukses dari Luminescence versi Inggris... karena lagu ini cukup beredar di Polandia, Yunani, Belanda dan Rusia... jadi sebetulnya Luminescence ya cukup beredar di Eropa ("Etre une femme", "Cesse la pluie" sama "Juste avant toi" masuk Eurochart Top 100--cek di Billboard.com). Malah seingat aku, promosi Luminescence dulu nggak seheboh promosi Elevation di Indonesia...
Mohon dilihat salah satu topik di Anggun World dulu yang membahas soal prospek Luminescence di AS, oleh seorang fans Anggun di AS, yang orang AS asli: http://www.anggunworld.com/forum/topic.asp?TOPIC_ID=654 dan http://www.anggunworld.com/forum/topic.asp?TOPIC_ID=654&whichpage=2
See?
Kita bisa lihat kalau potensi Anggun sebetulnya SANGAT besar untuk pasar AS, terutama dari album ini. Karena--ya itu--dia punya appeal untuk pasar mainstream, tapi tetap punya kualitasnya sendiri. Kenapa sampai hari ini belum terjadi juga, aku rasa sih mungkin pihak label Anggun masih belum berani untuk gambling seperti Sony dulu... MUNGKIN karena Heben bukan label besar seperti Sony. Ini mungkin loh... tapi aku rasa sih, kenapa juga ya harus nggak berani, mengingat Anggun punya potensi besar?
Aku berpendapat kalau cara terbaik untuk memasarkan musik Anggun di AS ya lewat jalur independen. Jalur ini terbukti lebih 'aman' bagi artis asing untuk masuk pasar AS... terbukti ada lumayan banyak artis independen dari Eropa yang berhasil menembus pasar AS lewat jalur itu, dapat posisi-posisi bagus di tangga lagu, bisa dibantu promosi dari majalah-majalah musik, bahkan bisa masuk nominasi hingga menang penghargaan prestisius macam Grammy Awards. Ada beberapa band Indonesia juga kan yang bisa rilis album di AS lewat jalur ini (salah satunya White Shoes & The Couples Company) dan dapat review bagus dari berbagai media AS. Kenapa Anggun nggak bisa? Toh dia udah jauh lebih dulu mendapat itu semua. Sekarang ya dia hanya perlu memulai kembali sebetulnya.
Tapi aku nggak ngerti juga sih, karena Anggun kan tergabung di major label di Perancis... nggak tahu apa bisa diintegrasikan ke indie label di AS? Karena--seperti bahasan di topik Anggun World itu--memang ada beberapa major label di AS yang bekerjasama dengan indie label untuk memasarkan album artis-artis di indie label itu...
Tapi pertanyaan terbesar sebetulnya: apa Anggun masih punya niat untuk masuk pasar AS lagi? Dari beberapa wawancara Anggun yang aku baca, masih agak kurang jelas soal ini.
Kadang terkesan masih niat, kadang juga terkesan nggak. Pastinya ada berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum akhirnya diputuskan, langkah apa yang diambil untuk karirnya. Jadi ini masih to be continued... ![]()
Aku sendiri sih cuma berharap agar Anggun bisa lebih dihargai posisinya di dunia musik internasional, terlebih oleh publik internasional itu sendiri. Memang selama ini cukup dihargai, tapi entah kenapa kok dia masih terkesan agak underrated ya?
Kadang miris juga loh, melihat artis yang one of a kind begini, yang begitu potensial tapi belum juga punya sukses besar. Apalagi orang kita yang banyak kritik kalau Anggun 'kurang internasional' atau sebagainya... itu betul-betul nggak menghargai. Coba, sampai sekarang mana ada penyanyi/band lain yang bisa meraih sukses secara internasional seperti Anggun? Anggun pun setelah 1 dekade berlalu masih punya karir internasional--lepas dari fakta bahwa dia sering pulang kampung di album Elevation ini.
Mungkin sukses Anggun tidak sebesar yang seharusnya/diharapkan, tapi aku sendiri sih merasa daripada cuma kritik nggak jelas dan buang-buang waktu, mending kasih saran-saran konkret aja yang semoga berguna, semoga dibaca oleh Anggun atau pihak label Anggun.
Iya, gw juga setuju sama paragraf terakhir lo. Dan, selain masalah rilis di US, gw udah bangga banget sama Anggun karena dia bukan tipe bubble-gum singer. Semua hal bisa dibanggain dari dia. Mulai dari cara berpakaian, suara, keterampilan membuat lagu dan main musik, smart ----> kalo ngga ada yang liat potensi dia, gak mungkin diminta jadi duta PBB.
Atau, jangan2, anggun sendiri yang "gambling?" :) Maksud gw, Anggun kan udah punya image yang bener2 one of a kind (minjem istilah elo). Jadi, gw pikir Anggun bakal "mikir" panjang kalo mau masuk pasar as. Dia ngga mungkin dong "nurunin" kualitas jadi lebih "komersil" hanya untuk masuk pasar AS. Dan, gak mungkin kan dia mau bikin sensasi aneh2 supaya dilirik media, :p
Ah, entahlah.
Yang pasti, rugi banget orang amrik kalo ngga bisa denger lagu2 dia (masa cuma denger lagu saviour di sontrek doang, :p).
@roseinthewind..
akhirnya dirimu kembali...
hehehe
ternyata Erlando yang telah memenangkan hatimu...
terima kasih ya Erlando..
sering2 bikin pertanyaan atau thread yang unik dan menantang ya..
nanti kan para ahlinya pada bermunculan hehehehe
saat ini aku belum ada ide untuk ikut komentar ..
hehehe soalnya kalo yang begini perlu survey dulu...
sayangnya aku lagi syiiibukk... and deg - degan..
jadi cuma bisa baca aja...
ayo monggo... yang lain..![]()
etupa: Hmm... makasih ya udah minta aku "Kembali" !
yah, untuk topik-topik seperti ini memang jiwa kritis aku langsung keluar (secara memang topik "Anggun dan Pasar Amerika" itu selalu bikin aku sensitif meradang ya... hahaha...)
Yah, hanya sekedar mengeluarkan pendapat lah disini... dan kembali berpanjang-lebar ria. Moga-moga nggak pusing bacanya!
Kalau minta yang lain komentar, aku sih paling tunggu viper, karena seperti namanya, komentarnya itu selalu menggigit nan berbisa seperti "viper"...
@ aroseinthewind : Viper? Jadi inget nama ID salah satu orang yang bikin thread di detik forum. :)
Biasanya, menurut Anggun, orang Asia selalu American minded. "Saya nggak mau sama dengan semua orang. Saya mau yang berbeda. Karena itu, saya nggak punya American dream. Kalau punya, saya pasti sudah di sana sekarang," ujarnya.
(sumber: http://batampos.co.id/Buahbibir/Buahbibir/_Resep_Anggun_Jadi_Penyanyi_Internasional.html)
"Kenapa album Anggun ngga di rilis lagi di US?"
karena Anggun udah gak se atraktif dulu lagi
btw ada penerusnya anggun tuh dari malaysia
lagi sibuk konser di US konsernya malah udah banyak yang sold out
yah kita kesalib ama malaysia deh hehehe abis band ama penyanyi indonesia sekarang ******
ini orang provokatif mulu ih..... gemar banget ngadu domba negeri sendiri sama Malaysia.... mau sukses atau kagak,..... bodo amat.....
Yang penting Anggun lebih berjiwa Indonesia.... toh Anggun sudah masuk di jajaran elit United Nations alias PBB..... Itu lebih membanggakan bagi gue ketimbang asal ngetop tapi gak berarti apa-apa.... wew
ok okie...nggak gw cuma pengen menambah wawasan aja biar jangan pada autis
ok okie...nggak gw cuma pengen menambah wawasan aja biar jangan pada autis
-indocr
Autis? Maksud lo?
Autis? Maksud lo?
-erlando
Jangankan kamu yang baru bergabung...
kita aja yang udah lama disini gak paham maksudnya...
hahahhaa
indocr memang suka banget bermain dengan dunianya sendiri...
jadinya hanya dia dan Tuhan YME yang mengerti....
jadi... gak penting kan....
BTW viper itu memang salah satu dedengkotnya fans Anggun yang beredar diberbagai forum...
bahkan dia punya website sendiri "Anggun galaxy" meskipun sekarang sudah almarhum (websitenya maksudku..)
Beliau juga yang disebut istilahnya pendekar pembela kebenaran di forum detik (khususnya..)
kalo mau kenalan sama viper ...aku bisa bantuin..
tapi ada komisinya lho...
10 %
hahahah![]()
@ erlando : Ya betul sekali, Viper adalah salah satu penggemar sejati Anggun yang pintar, kritis dan simpatik...
Lihat-lihat aja deh di topik "Ngomongin Anggun Yuk?" apa "Kreasi-mu", disitu banyak bertebaran tulisan-tulisan Viper, yang -seperti namanya- begitu "menggigit dan berbisa". Dan hanya tinggal menghitung hari aja kok sampai dia balas ke topik ini. Pasti bakal suka deh sama tulisannya... ![]()
@ adepalembang : Betul banget, dan ini bisa jadi salah satu alasan kenapa Anggun nggak pernah coba untuk masuk ke pasar AS lagi setelah Snow on the Sahara.
Jujur aku sih bangga sama Anggun, bisa punya pikiran seperti ini. Cuma... nggak bisa dipungkiri juga kalau pasar musik AS adalah salah satu pasar musik terbesar (kalau bukan yang terbesar) di dunia. Harapannya sih, kalau Anggun bisa eksis disitu, kan bisa jadi semacam pembuktian bagi "mereka" akan seorang musisi Asia dengan kualitas seperti Anggun: punya diva sekaligus musician image. Karena kan, kalau kita lihat, kebanyakan artis Asia yang 'beredar' di AS hanya punya salah satu dari dua image itu. Kalau orang-orang macam M.I.A., Utada apa Zee Avi ini kan lebih sebagai musisi. Sedangkan kalau macam BoA apa Jay Sean kan lebih yang mainstream. Kalau Anggun kan bisa dibilang ada ditengah-tengahnya dan ini kan suatu yang spesial?
Aku sendiri pun dari dulu (dan terlebih sekarang) sebetulnya lebih 'sreg' sama pasar musik Eropa, karena nggak terlalu 'kejam' seperti AS dan mereka lebih menghargai artis-artis asing pada umumnya. Baiknya sih Anggun lebih konsen lah sama pasar Eropa... Bagus, Anggun kemarin sempat cukup menggarap Elevation di Rusia. Dan itu, gimana kabarnya? ![]()
Kan Anggun juga sering menyentil soal Kylie Minogue yang bukan nama besar di AS, tapi sukses di Australia dan Eropa. Kenapa juga Anggun nggak kayak begitu? Bukan mau sama-samain, tapi kan memang Kylie punya nama besar di Eropa. Inginnya kan Anggun juga begitu. Bisa eksis di pasar Inggris, Australia sama New Zealand juga Kanada. Dan juga di Amerika Latin, karena Anggun juga punya banyak fans tuh di Brazil...
Harapannya sebetulnya simpel aja kan: kita ingin Anggun dan musiknya lebih beredar dan lebih dihargai. Jadi kita nggak cuma mengenang kesuksesan masa lalu Anggun, tapi juga optimis dengan sukses (yang semoga lebih besar) yang dapat diraih selanjutnya.
@ etupa n aroseinthewind : Iya, gw baca semua tulisan Viper di detik forum. Tulisannya bagus2 dan anggunpedia banget. Jadi curiga, jangan2 dia sodaranya anggun, :p Gw banyak dapet info di forum sana (sebelum akhirnya nemu anggunesia).
Back to topik, entah kenapa, gw kok mikir album terakhirnya malah "maksa" buat ngarah ke mainstream dan terkesan mau kompromi sama publik US? Seperti kata arose, kadang terkesan masih niat, kadang juga terkesan nggak. Jujur, menurut gw, album elevation sangat "ngga" anggun. Untung aja suara dia khas banget. Jadi, apapun lagu yang dinyanyiin dia, kayaknya udah jadi milik dia aja.
Liat aja v-klip My Man. Itu ngga banget menurut gw. Sangat maksa buat amrik-amrik-in. IMHO loh. Walau masih ada beberapa track-nya yang bener2 khas anggun (no song, world).
Hmmmm...
Gw justru lebih suka dia kolaborasi sama DJ ketimbang rapper. Kalo kolaborasi sama DJ, Anggun jadi sangat Eropa. Dan itu lebih "mahal" menurut gw.
Entahlah. Moga2 aja kedepannya Anggun ngga bakal keseret dengan america's minded. Gw kangen banget sama lagu2 dia yang seperti di 3 album pertamanya. Gabungan antara world music, soul dan dance (bukan hiphop).
Aku sendiri pun dari dulu (dan terlebih sekarang) sebetulnya lebih 'sreg' sama pasar musik Eropa, karena nggak terlalu 'kejam' seperti AS dan mereka lebih menghargai artis-artis asing pada umumnya.
-aroseinthewind
Kalo menurut gw sih, amrik ngga "kejam", tapi terlalu mengeksploitasi artis. Kalo masalah musisi asing, banyak kan musisi asing yang bisa tembus di amrik.
Nah, masalahnya, saking dieksploitasi, musiknya malah jadi kampungan. Liat aja musik2 amrik sekarang. Gejalanya mirip musik indo sat ini. Di indo, musisi yang berbau melayu bener2 di eksploitasi habis2an.
Beberapa tahun yang lalu, di amrik, hip-hop bener2 di exploitasi sampe2 musisi hiphop n rapper jadi kesel karena banyak lagu2 rap/hiphop hanya dibikin sekedar sekelas ringtone dan RBT (indonesia banget yah?)
Trus, semenjak walt disney keluarin artis2 abg-nya, bhooooo....., makin aneh aja musik Amrik. Liat aja miley syrus-hannah montana dan bintang2 high shcoll yang kebangetan musiknya. Menurut gw loh...
Kalo 2 dekade lalu, musik jazz n world music malah nge-trend. Sampe2 Tori amos n neneh cherry berkibar di grammy.
Bedanya ama musik eropa, imho, musisi di sana tuh lebih stabil n lebih mapan dalam menentukan sikap bermusiknya. Itu yang gw suka. Sehingga jarang banget kita liat ada musisi eropa yang genrenya jazz ato seriosa nyoba2 pop ato country. Pokoknya mereka konsisten banget deh.
Dan, gw kudu dag-dig-dug saa perkembangan Anggun. Semoga konsistensi dia dijalur yang udah dia pilih itu ngga goyah hanya karena sekedar "ingin merambah genre yang belum dia sentuh".
Wah, gue yakin Viper pasti bakal setuju berat sama kata-kata lo nih, erlando. Memang, dengan fakta bahwa setiap rilis album Anggun tuh ganti haluan, bisa bikin fans agak 'gimana' gitu. Gue pribadi sih nggak pernah masalah dan asyik-asyik aja sama hal ini, secara memang selera musik gue sangat luas (ruangan kalee...) dan untungnya sejauh ini musik yang Anggun bikin klik sama gue. Cumaaa.... fans Anggun kan bukan cuma gue. Jadi jelas selain mengikuti apa yang gue suka bilang sebagai 'insting bermusik', baiknya si artis juga nggak bikin bingung fans-nya gitu.
Nah gue juga setuju nih soal pasar AS yang suka mengeksploitasi artis. Ya, sebetulnya tanpa kita betul-betul sadari, banyak loh kemiripan antar AS dan Indonesia, terutama ya soal industri musik. Bedanya, pasar musik AS kan jelas jauh lebih besar dan lebih 'berdigdaya' ketimbang Indonesia. Yang gue maksudkan sih sebetulnya penerimaan pasar AS sama artis-artis dari Asia. Susah loh. Mereka bisa diskriminatif (industrinya yah, bukan publiknya). Bahkan sama artis-artis dari Eropa pun mereka masih bisa begitu. Maka dari itu, sebetulnya sejak gue 'menemukan' musik Anggun di tahun 2004, gue udah mulai nggak sreg sama tren-tren musik dari AS. Ada lah, satu apa dua yang gue suka, tapi selebihnya sih males deh. Apalagi yang lo bilang itu, bintang-bintang Disney nggak jelas macam Miley Cyrus, Jonas Brothers,.... Aduh jijay banget deh. Padahal waktu zaman Britney Spears, Christina Aguilera dan sebagainya itu gue bener-bener kiblat deh sama segala sesuatu yang berbau AS. Tapi karena gue menemukan Anggun, yah udah deh, jadi pindah haluan... Jadi bisa dibilang musik Anggun cukup menyelamatkan gue... (sentimental mode: on).
Agak melenceng sedikit dari topik, gue juga agak kecewa sama perhelatan MTV Europe Music Awards 3 tahun terakhir ini, yang menurut gue hampir nggak ada Europe-Europe-nya. Wong yang masuk nominasi, yang menang, yang tampil, yang jadi bintang tamu sampai yang jadi pembaca acara hampir semua orang AS kok.
Cuma lokasinya aja yang di kota-kota Eropa.
Kembali lagi, ya gue ngerti banget kenapa banyak orang yang bilang kalau album Elevation nih "nggak Anggun banget". Karena memang untuk pertama kali dalam karir (internasional)nya Anggun bikin album yang betul-betul ngikutin tren yang lagi ada. Di 4 album sebelumnya kan, dia nggak begitu. Mungkin ada satu-dua lagu yang begitu, tapi secara keseluruhan materinya 'melawan arus'. Nah di album Elevation ini malah kebalikannya.
Sekali lagi, gue pribadi sih suka aja sama album Elevation. Gue rasa konsep sama eksekusinya cukup kuat dan ya, vokal Anggun itu memang sangat kuat dan distingtif. Tapi gue sih nggak setuju ya kalau Anggun dibilang mau ikut-ikutan "jadi Amerika" di album ini. Gue rasa dia hanya bereksperimen. Nggak masalah juga sih, secara -lagi-lagi- Anggun sebetulnya cocok aja masuk ke jenis musik apapun (nembang aja dia bisa...
). Yang bikin kaget jelas karena tiba-tiba 'Anggun goes urban and sexy' gitu. Tiba-tiba musiknya serba 'heboh' dan lirik-liriknya banyak yang seksi dan menggoda. Fans yang lebih terbiasa sama musik Anggun yang lebih melodius, lirik-liriknya yang personal nan romantis, bisa jadi kaget sama Elevation.
Gue sendiri sih hanya agak menyayangkan 3 hal di era album Elevation ini: 1) Anggun begitu konsen di pasar Indonesia lewat Elevation, bahkan promosi untuk versi Prancis-nya aja hampir nggak ada (dikit banget deh...), 2) Bikin lagu "Crazy" sama "Seize The Moment" dalam versi campur Indonesia-Inggris, itu agak bikin il-feel ya... dan 3) Anggun sering lip-sync pas tampil di TV! Gue masih ingat sih, waktu zaman Luminescence, Anggun nggak terlalu banyak promo disini, tapi albumnya tetap laku kok. Nyanyi di TV pun nggak pakai lip-sync. DAN Luminescence jauuhh.. lebih beredar di Eropa ketimbang Elevation. Dan sampai sekarang, gue terus bertanya-tanya: Kenapa?
Jujur, gue sih suka bahwa secara musik Anggun itu betul-betul tanpa batas. Cuma kalau keseringan juga bisa bikin 'gimana' kan. Hanya sekedar pendapat, Anggun perlu untuk buat album yang konsepnya mirip sama Luminescence--menggabungkan semua influens-nya. Karena album itu kan seperti merangkum segala jenis musik Anggun: ada pop-rock, ada world music, ada electropop.
Dan sebagai penutup, mari kita sentil soal Viper lagi. Kalau dia sih, memang dari zaman Anggun masih pakai topi baret udah jadi penggemar! Makanya bisa tahu banget. Kalau soal saudaraan, nggak lah, tapi yang pasti Viper dan Anggun sudah saling mengenal deh! Wong konon katanya dia pernah ditelepon Anggun langsung kok. Dan di album Luminescence Anggun juga menyertakan namanya dalam 'thank-you list'. Jadi... kita tunggu kehadiran Viper aja yah disini! ![]()
Oh ya, kalau soal video "My Man", gue rasa memang 'lumayan biasa' yah video-nya. Kritik gue sama kayak Viper, yaitu... siapa toh yang ngurusin bagian wardrobe untuk video ini sama "Crazy"?! Tapi jujur, scene yang pas bagian rap-nya Pras Michel itu keren abis!
Gue pribadi sih suka banget lagunya, beat-nya asyik. Cuma memang, rasanya lagu-lagu kayak "My Man" udah lumayan banyak beredar. Still it's good for me! :)
anggun yang ngasih gelar diva kan orang indonesia juga
di perancis gak dibilang diva ama pers sana kan?
btw gw pernah baca di pers conf la road show katanya luminesence taun 2005 di lego 400.000 copy di italia tapi mungkin kali aja dulu gak laku di italia jadi kontrak elevation di batalkan kan katanya abis summer rilis di italia nah ini udah november belom ada beritanya.
gw gak ngerti anggun tuh ngedarin albumnya dari heben kayak 3diva gitu gak sih jadi gak langsung dari major label dalam arti dia harus bergerilya sendiri???
